Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Februari 2026, Ini Tanggalnya di Bulan Syaban

Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Februari 2026, Ini Tanggalnya di Bulan Syaban
Ilustrasi.

Menjelang bulan Ramadhan, tak sedikit umat muslim yang memaksimalkan ibadahnya dengan menjalankan sunnah seperti puasa Ayyamul Bidh.

Momen di bulan Syaban ini seringkali dimanfaatkan untuk mempersiapkan diri secara spiritual sebelum memasuki bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Bahkan tak jarang ada yang ingin menggabungkan puasa qadha dengan Ayyamul Bidh. Lantas, bolehkah demikian?

Pertanyaan ini kerap muncul ketika seseorang masih memiliki tanggungan puasa wajib, namun tidak ingin melewatkan kesempatan meraih pahala dari hari-hari istimewa.

Sebelum membahas lebih jauh, mari kita simak terlebih dahulu kapan tepatnya Ayyamul Bidh di Februari 2026 akan dilaksanakan.

Kalender Lengkap Bulan Syaban 2026

Bulan Syaban 1447 H dimulai pada Selasa, 20 Januari 2026 berdasarkan kalender yang dirilis Kementerian Agama Republik Indonesia.

Perhitungan ini sejalan dengan penetapan dari Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Berikut rincian lengkap penanggalan Syaban 1447 H yang perlu diketahui:

  • 1 Syaban 1447 H: 20 Januari 2026
  • 2 Syaban 1447 H: 21 Januari 2026
  • 3 Syaban 1447 H: 22 Januari 2026
  • 4 Syaban 1447 H: 23 Januari 2026
  • 5 Syaban 1447 H: 24 Januari 2026
  • 6 Syaban 1447 H: 25 Januari 2026
  • 7 Syaban 1447 H: 26 Januari 2026
  • 8 Syaban 1447 H: 27 Januari 2026
  • 9 Syaban 1447 H: 28 Januari 2026
  • 10 Syaban 1447 H: 29 Januari 2026
  • 11 Syaban 1447 H: 30 Januari 2026
  • 12 Syaban 1447 H: 31 Januari 2026
  • 13 Syaban 1447 H: 1 Februari 2026
  • 14 Syaban 1447 H: 2 Februari 2026
  • 15 Syaban 1447 H: 3 Februari 2026
  • 16 Syaban 1447 H: 4 Februari 2026
  • 17 Syaban 1447 H: 5 Februari 2026
  • 18 Syaban 1447 H: 6 Februari 2026
  • 19 Syaban 1447 H: 7 Februari 2026
  • 20 Syaban 1447 H: 8 Februari 2026
  • 21 Syaban 1447 H: 9 Februari 2026
  • 22 Syaban 1447 H: 10 Februari 2026
  • 23 Syaban 1447 H: 11 Februari 2026
  • 24 Syaban 1447 H: 12 Februari 2026
  • 25 Syaban 1447 H: 13 Februari 2026
  • 26 Syaban 1447 H: 14 Februari 2026
  • 27 Syaban 1447 H: 15 Februari 2026
  • 28 Syaban 1447 H: 16 Februari 2026
  • 29 Syaban 1447 H: 17 Februari 2026
  • 30 Syaban 1447 H: 18 Februari 2026

Pergantian hari dalam kalender Hijriah terjadi setelah terbenamnya matahari. Artinya, malam 1 Syaban sudah dimulai sejak Maghrib pada 19 Januari 2026.

Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Februari 2026

Berdasarkan kalender Syaban 2026 di atas, pelaksanaan puasa Ayyamul Bidh jatuh pada tiga hari berturut-turut di awal Februari. Berikut tanggal pastinya:

  • Minggu, 1 Februari 2026 – bertepatan dengan 13 Syaban 1447 H
  • Senin, 2 Februari 2026 – bertepatan dengan 14 Syaban 1447 H
  • Selasa, 3 Februari 2026 – bertepatan dengan 15 Syaban 1447 H

Menariknya, tanggal 15 Syaban juga merupakan malam Nisfu Syaban yang diyakini sebagai malam penuh keberkahan. Bagi yang menjalankan puasa pada hari ketiga Ayyamul Bidh, secara otomatis juga menunaikan puasa Nisfu Syaban.

Syaban dikenal sebagai bulan yang memiliki kedudukan istimewa karena posisinya di antara Rajab dan Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda:

“Syaban adalah bulan yang sering dilupakan oleh manusia, bulan di antara Rajab dan Ramadan. Di bulan itu amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, maka aku suka apabila amalku diangkat sementara aku dalam keadaan berpuasa.” (HR An-Nasa’i)

Hadits ini menjelaskan mengapa Rasulullah SAW begitu menyukai berpuasa di bulan Syaban. Beliau ingin amalnya diangkat kepada Allah dalam keadaan yang terbaik.

Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah SAW, juga meriwayatkan kebiasaan beliau di bulan ini. Ia berkata:

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW lebih banyak berpuasa dalam satu bulan selain bulan Syaban.” (HR Bukhari dan Muslim)

Bacaan Niat Puasa Ayyamul Bidh

Niat untuk puasa Ayyamul Bidh dapat dilafadzkan sejak setelah Maghrib hingga sebelum terbit fajar. Meski demikian, lebih utama untuk meniatkannya sejak malam hari.

Lafadz niatnya:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلهِ تَعَالَى

“Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati Sya’bana lillahi ta’ala”

Artinya: “Saya berniat puasa esok hari untuk menunaikan sunnah Syaban karena Allah Ta’ala.”

Puasa Ayyamul Bidh termasuk puasa sunnah, sehingga niatnya bersifat ringan dan fleksibel. Niat puasa dapat dibaca pada malam hari sebelum tidur atau pada pagi hari sebelum tergelincir matahari, selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Bolehkah Menggabungkan Puasa Sunnah dengan Qadha Ramadhan?

Persoalan ini menjadi salah satu pertanyaan yang paling sering muncul ketika Ramadhan sudah semakin dekat. Seseorang yang masih memiliki tanggungan puasa wajib namun ingin meraih pahala puasa sunnah kerap diliputi kebingungan.

Dalam kajian fiqh, terdapat dua pendapat ulama terkait hal ini:

Pendapat Pertama: Boleh Menggabungkan

Sebagian ulama membolehkan seseorang menggabungkan niat qadha dengan puasa sunnah. Caranya adalah dengan meniatkan puasa qadha sebagai niat utama, kemudian dilaksanakan pada hari-hari yang memiliki keutamaan seperti Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, atau Arafah. Harapannya, pelaku akan mendapatkan pahala keduanya sekaligus.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa siapa yang berpuasa qadha pada hari-hari istimewa seperti Arafah atau Asyura, ia berpeluang mendapatkan dua pahala: pahala qadha dan pahala puasa sunnah tersebut. Hal ini berlaku untuk puasa sunnah yang tidak terkait langsung dengan Ramadhan.

Dalil yang digunakan antara lain hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika Rasulullah SAW bertanya apakah ada makanan. Setelah dijawab tidak ada, beliau pun berpuasa tanpa menyebutkan jenis puasa tertentu. Ini menunjukkan fleksibilitas dalam niat puasa sunnah.

Pendapat Kedua: Tidak Boleh, Harus Dipisahkan

Pendapat lain menyatakan bahwa puasa qadha dan sunnah tidak bisa digabungkan. Alasannya, puasa qadha adalah kewajiban yang harus diselesaikan, sementara puasa sunnah bersifat anjuran. Dalam kaidah fiqh, ibadah wajib memiliki kedudukan lebih tinggi daripada sunnah.

Karenanya, prioritas utama adalah menyelesaikan tanggungan puasa wajib terlebih dahulu. Tidak ada yang tahu sampai kapan usia seseorang, sehingga hutang kepada Allah harus segera dilunasi.