Menjelang Idul Fitri 2026, jutaan umat Islam di Indonesia berbondong-bondong mendatangi pemakaman untuk berziarah.
Tradisi ini dikenal dengan berbagai nama, seperti nyekar di kalangan masyarakat Jawa, atau nadran di beberapa daerah Jawa Barat.
Meski istilahnya berbeda-beda, makna di baliknya tetap satu, yaitu mendoakan mereka yang telah mendahului kita pergi.
Ziarah kubur sejatinya adalah momen untuk menundukkan hati. Di antara nisan-nisan yang berdiri sunyi, setiap orang diajak merenungkan perjalanannya sendiri.
Bahwa kematian bukan sesuatu yang jauh, melainkan sebuah kepastian yang menanti setiap jiwa yang bernyawa.
Tidak ada ketentuan khusus tentang kapan waktu terbaik untuk berziarah. Namun tradisi jelang Lebaran ini telah mengakar kuat dalam keseharian masyarakat Muslim Indonesia.
Ia bukan sekadar ritual musiman, melainkan ekspresi cinta dan hormat kepada mereka yang kini hanya bisa kita jangkau lewat doa.
Daftar isi
Doa Ziarah Kubur
Saat tiba di makam, hal pertama yang dianjurkan adalah mengucapkan salam kepada para penghuni kubur, lalu membaca doa.
Berikut doa ziarah kubur dalam dua versi, singkat dan panjang, yang bisa diamalkan sesuai kemampuan.
1. Versi Singkat
Doa ini mudah dihafal dan bisa diamalkan langsung di hadapan pusara:
Arab:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ
Latin:
Allahummaghfìrlahu warhamhu wa ‘aafìhii wa’fu anhu, wa akrim nuzuulahu wawassi’ madholahu, waghsilhu bil maa’i watssalji walbaradi.
Artinya: “Ya Allah, berilah ampunan dan rahmat kepadanya. Berikanlah keselamatan dan maaf untuknya. Muliakanlah tempatnya dan lapangkanlah, serta mandikanlah ia dengan air, salju, dan embun.”
2. Versi Panjang
Bacaan ini lebih lengkap dan mencakup salam kepada seluruh ahli kubur:
Arab:
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا حَضْرَةَ الْمَرْحُوْمِ وَيَا أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ
Latin:
Assalamu ‘alaikum yaa hadratal marhum wa yaa ahlad diyaari minal mu’miniina wal mu’minaati wal muslimiina wal muslimaati, wa innaa insyaa Allahu bikum laahiquun.
Artinya: “Semoga keselamatan terlimpah atasmu, wahai almarhum, dan seluruh penghuni kubur dari golongan orang-orang beriman, laki-laki maupun perempuan. Sesungguhnya kami, jika Allah berkehendak, akan menyusul kalian.”
Setelah salam, dilanjutkan dengan membaca Surat Al-Fatihah, Ayat Kursi, Al-Ikhlas tiga kali, Al-Falaq tiga kali, An-Nas tiga kali, serta doa untuk jenazah.
Doa untuk jenazah yang dianjurkan berdasarkan hadits riwayat Muslim adalah sebagai berikut:
Latin:
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’fu ‘anhu wa ‘aafìhii, wa akrim nuzuulahu wawassi’ mudkholahu, waghsilhu bimaa’i wats-tsalji wal baradi, wa naqqihi minal khathaaya kamaa yunaqqatssaubul abyadhu minad danasi. Wa abdilhu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wa zaujan khairan min zaujihi. Wa qihi fitnatal qabri wa ‘adzaban naar.
Artinya: “Ya Allah, ampuni dan rahmatilah ia. Beri ia keselamatan dan maaf. Muliakan tempatnya dan lapangkan. Mandikan ia dengan air, salju, dan embun. Bersihkan ia dari dosa sebagaimana baju putih dibersihkan dari noda. Gantikan untuknya rumah yang lebih baik, keluarga yang lebih baik, dan pasangan yang lebih baik. Lindungi ia dari fitnah kubur dan azab neraka.” (HR. Muslim)
Tata Cara Ziarah Kubur
Ziarah kubur bukan sekadar datang lalu pulang. Ada urutan yang dianjurkan agar kunjungan ini bernilai ibadah dan penuh makna.
- Niatkan ziarah semata untuk mendoakan ahli kubur dan merenungi kematian, bukan untuk meminta sesuatu kepada penghuni kubur.
- Sesampainya di pemakaman, ucapkan salam kepada seluruh ahli kubur dengan lafaz yang telah diajarkan Rasulullah SAW.
- Bacalah Surat Al-Fatihah, dilanjutkan dengan beberapa ayat awal Al-Baqarah, Ayat Kursi, dan tiga surat terakhir Al-Quran.
- Perbanyak istighfar, tahlil, dan shalawat selama berada di area pemakaman.
- Bacalah doa ziarah kubur dengan khusyuk, baik versi singkat maupun panjang sesuai kemampuan.
- Hadapkan diri ke arah kiblat saat berdoa agar doa lebih terarah dan sesuai sunnah.
Adab Melaksanakan Ziarah Kubur
Selain tata cara, ada etika yang wajib dijaga agar ziarah tidak kehilangan nilainya. Adab ini bukan aturan kaku, melainkan cerminan rasa hormat kepada yang telah tiada.
- Jangan menaburkan bunga di atas makam karena perbuatan ini tidak pernah dicontohkan Rasulullah SAW maupun para sahabatnya.
- Boleh menangis saat berziarah, sebab Rasulullah SAW pun pernah menangis di makam ibunya. Namun jangan sampai meraung atau meratap berlebihan.
- Disunahkan berziarah dalam posisi berdiri, termasuk saat membaca doa.
- Jangan duduk atau menginjak bagian atas pusara. Rasulullah SAW menegaskan bahwa duduk di atas bara api jauh lebih baik daripada duduk di atas kubur. (HR. Muslim)
- Menyiram air di atas pusara diperbolehkan berdasarkan hadits yang menyebutkan Rasulullah SAW melakukan hal ini di makam putranya, Ibrahim.
- Hindari makan, minum, tertawa berlebihan, atau berbicara hal-hal tidak penting selama berada di area pemakaman.
- Jauhkan diri dari kebiasaan mengabadikan momen dengan berfoto bergaya di atas pusara karena sangat tidak pantas dilakukan.
- Tidak perlu mengkhususkan hari tertentu untuk berziarah karena ziarah kubur boleh dilakukan kapan saja.
Hukum Ziarah Kubur dalam Islam
Ada pertanyaan yang sering muncul, apakah ziarah kubur hukumnya wajib, sunnah, atau justru dilarang? Jawabannya tidak sesederhana satu kata.
Pada masa awal Islam, Rasulullah SAW memang pernah melarang umatnya berziarah kubur. Hal ini dilakukan karena saat itu pemahaman akidah umat Islam belum cukup kokoh.
Dikhawatirkan mereka masih terbawa kebiasaan jahiliyah yang kerap menyebut-nyebut nenek moyang dengan nada kebanggaan berlebihan saat mengunjungi kubur.
Namun setelah pondasi akidah Islam semakin kuat, larangan itu dicabut. Rasulullah SAW bersabda:
“Saya pernah melarang kalian berziarah kubur. Sekarang, ziarahilah kubur-kubur itu.” (HR. Muslim, Ahmad, dan Nasa’i)
Mayoritas ulama berpendapat bahwa perintah yang datang setelah sebuah larangan menjadikan hukumnya mubah atau boleh.
Bahkan Imam Syamsuddin Al-Qurthubi menegaskan bahwa ziarah kubur hukumnya sunnah bagi laki-laki berdasarkan kesepakatan para ulama.
Untuk perempuan, hukumnya masih diperselisihkan. Sebagian ulama membolehkan, khususnya bagi perempuan yang sudah tua dan tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah.
Makna Ziarah Kubur di Balik Tradisi Lebaran
Bagi masyarakat Indonesia, ziarah kubur jelang Idul Fitri bukan sekadar ritual turun-temurun yang dijalankan tanpa makna.
Ini adalah momen untuk berhenti sejenak dari kesibukan menyambut hari raya, lalu menoleh ke belakang, mengingat mereka yang sudah pergi lebih dulu.
Di sana ada orang tua, kakek-nenek, saudara, atau sahabat yang kini hanya bisa disambut lewat doa yang dikirimkan dari pinggir pusara.
Tradisi ini juga mengajarkan bahwa kebahagiaan Lebaran terasa lebih utuh saat kita tak melupakan mereka yang tak lagi bisa merayakannya bersama kita.
Maka, sebelum ketupat tersaji dan baju baru dikenakan, sempatkan diri untuk hadir di makam, membaca Al-Fatihah, dan mengirim doa. Karena itulah salah satu bentuk cinta yang masih bisa kita berikan.








