Doa Buka Puasa Dzahaba Lengkap dengan Arab, Latin dan Artinya

Doa Buka Puasa Ramadhan 2026 Lengkap dengan Arab, Latin dan Artinya
Ilustras Berbuka Puasa.

Saat adzan Maghrib berkumandang, umat Islam di seluruh dunia serempak mengangkat tangan, memanjatkan doa, lalu menyentuh hidangan berbuka yang sudah menanti.

Momen berbuka bukan sekadar waktu makan biasa. Ini adalah salah satu titik paling berharga dalam sehari untuk memohon segala hajat dan harapan kepada Allah SWT.

Para ulama sepakat bahwa waktu berbuka puasa termasuk saat paling mustajab untuk berdoa, sehingga sangat sayang jika momen berharga ini dilewatkan begitu saja.

Karena itu, setiap muslim perlu memahami doa buka puasa dzahaba yang bersumber langsung dari hadits Nabi SAW dan terbukti memiliki sanad yang sangat kuat.

Doa Buka Puasa Dzahaba

Lafal doa buka puasa dzahaba berasal dari sunnah Nabi Muhammad SAW dan telah dihukumi hasan hingga shahih oleh para ahli hadits terkemuka di dunia Islam.

Berikut bacaan lengkap doa buka puasa dzahaba beserta tulisan Arab, latin, dan artinya yang dapat langsung dihafalkan jauh sebelum bulan Ramadhan tiba:

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

Arab Latin: Dzahabaẓ-ẓama’u, wabtallatil-‘urūqu, wa tsabatal-ajru in syā’allâh.

Artinya: “Hilanglah rasa haus, basahlah badan, dan semoga pahala pun telah ditetapkan, insya Allah.”

Doa ini diucapkan setelah seseorang menyentuh makanan atau minuman pertama kali saat berbuka puasa, sebagai tanda resmi berakhirnya ibadah puasa hari itu.

Mengapa Doa Buka Puasa Dzahaba Dianggap Mustajab?

Keistimewaan doa dzahaba bukan tanpa dasar yang kuat. Ada dua alasan utama mengapa doa ini sangat dianjurkan dan diprioritaskan oleh para ulama dari zaman ke zaman.

Pertama, doa ini bersumber dari hadits yang kuat. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW rutin membaca doa ini ketika berbuka puasa:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ مَرْفُوعًا : كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Artinya: “Dari Ibnu Umar secara marfu’, jika berbuka puasa, beliau mengucapkan: Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala, insya Allah.” (HR. ad-Daruquthni)

Hadits ini dihukumi hasan oleh Syaikh al-Albani, sementara al-Hakim bahkan menyatakan derajatnya shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim. Wallahu a’lam.

Kedua, waktu berbuka puasa memang menjadi momen mustajabnya doa. Rasulullah SAW menegaskan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Artinya: “Ada tiga doa yang tidak akan ditolak: doa pemimpin yang adil, doa orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan doa orang yang terdzalimi.” (HR. Tirmidzi no. 3595, Ibnu Majah no. 1752)

Orang yang berpuasa berada dalam kondisi tunduk dan merendahkan diri di hadapan Allah SWT, sehingga kondisi ini sangat tepat untuk doa-doa yang khusyuk.

Gabungan antara doa bersumber hadits shahih dan waktu yang dijamin keutamaannya menjadikan doa dzahaba sebagai pilihan terbaik dan utama saat berbuka.

Doa Buka Puasa Ramadhan Lain

Selain doa dzahaba, ada pula beberapa lafal doa buka puasa lain yang dikenal luas dan diamalkan oleh umat Islam di berbagai belahan penjuru dunia Islam.

Doa Allahumma Laka Sumtu

Doa ini sangat populer di Indonesia dan kerap diajarkan kepada anak-anak sejak kecil, baik di lingkungan sekolah maupun pesantren di seluruh nusantara.

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

Latin: Allāhumma laka ṣumtu, wa ‘alā rizqika afṭartu.

Artinya: “Ya Allah, hanya untuk-Mu aku berpuasa dan atas rezeki-Mu aku berbuka puasa.”

Perlu diketahui bahwa hadits yang mendasari doa ini berstatus dhaif karena sanadnya terputus dan salah satu perawinya dinyatakan matruk oleh para ulama hadits.

Doa Gabungan dalam Hasyiyah Iqna

Syaikh Sulaiman Bujairimi menggabungkan doa allahumma laka sumtu dan dzahaba menjadi satu lafal yang jauh lebih panjang, lengkap, dan menyeluruh maknanya.

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَبِكَ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ. ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شاءَ اللهُ. يا وَاسِعَ الفَضْلِ اِغْفِرْ لِي

Latin: Allāhumma laka ṣumtu wa ‘alā rizqika afṭartu, wa bika āmantu, wa bika wa ‘alaika tawakkaltu. Dzahabaẓ-ẓama’u wabtallatil-‘urūqu wa tsabatal-ajru in syā’allāh. Yā wāsi’al-faḍli ighfir lī.

Artinya: “Ya Allah, hanya untuk-Mu aku berpuasa. Dengan rezeki-Mu aku berbuka. Kepada-Mu aku beriman dan bertawakal. Dahaga telah hilang, urat-urat telah basah, dan insya Allah pahala telah ditetapkan. Wahai Dzat Yang Luas Karunia, ampunilah aku.”

Doa Buka Puasa di Rumah Orang Lain

Ada doa khusus yang sangat dianjurkan ketika seseorang berbuka puasa di rumah orang lain, sebagai bentuk apresiasi dan doa tulus kepada sang tuan rumah.

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الْأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلَائِكَةُ

Latin: Aftara ‘indakumuṣ-ṣāimūna wa akala ṭa’āmakumul-abrāru wa ṣallat ‘alaikumul-malāikah.

Artinya: “Telah berbuka di rumahmu orang-orang yang berpuasa, telah memakan hidanganmu orang-orang yang baik, dan para malaikat pun mendoakanmu.”

Dari semua pilihan doa di atas, doa dzahaba tetap paling dianjurkan karena memiliki landasan hadits yang paling kuat dan diakui mayoritas ulama hadits.

Jadikan setiap momen berbuka bukan sekadar melepas lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai kesempatan terbaik untuk memanjatkan doa tulus kepada Allah SWT.