Setiap tahun, menjelang dan saat Idul Fitri tiba, satu kalimat selalu terdengar hangat di mana-mana, dari masjid hingga pesan singkat di ponsel.
Kalimat itu adalah taqabbalallahu minna wa minkum, sebuah ucapan yang bukan sekadar basa-basi, melainkan doa tulus yang mengandung makna mendalam.
Namun tidak sedikit orang yang masih bingung, apa sebenarnya arti kalimat tersebut? Dan bagaimana jawaban taqabbalallahu minna wa minkum yang tepat?
Artikel ini hadir untuk menjawab pertanyaan itu secara lengkap dan mudah dipahami, berdasarkan sumber-sumber keislaman yang sahih.
Daftar isi
Makna Taqabbalallahu Minna Wa Minkum
Secara harfiah, kalimat ini berasal dari bahasa Arab dan merupakan sebuah doa yang dipanjatkan untuk sesama Muslim.
Berikut tulisan Arab, latin, serta artinya secara lengkap:
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ
Taqabbalallahu minna wa minkum.
Artinya: “Semoga Allah menerima amal ibadah dari kami dan dari kalian semua.”
Kalimat ini bukan lahir begitu saja. Ia memiliki akar sejarah yang kuat dalam tradisi para sahabat Nabi Muhammad SAW.
Dalam kitab Fathul Bari karya Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani, disebutkan riwayat dari Jubair bin Nufair bahwa para sahabat Rasulullah SAW biasa saling mengucapkan kalimat ini ketika bertemu di hari raya.
Sanad riwayat tersebut dinilai hasan, artinya dapat dijadikan rujukan dalam praktik keagamaan sehari-hari.
Imam Ahmad pun menegaskan tidak ada masalah dengan mengucapkan kalimat ini di hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha.
Ada pula versi yang lebih panjang dan sering digunakan, terutama dalam pesan ucapan selamat:
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تَقَبَّلْ ياَ كَرِيْمُ وَجَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَاءِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ كُلُّ عاَمٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ
Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal yaa kariim, wa ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin wal maqbulin kullu ‘aamin wa antum bi khair.
Artinya: “Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian. Wahai Allah Yang Maha Mulia, terimalah! Semoga Allah menjadikan kami dan kalian termasuk orang-orang yang kembali, menang, serta diterima amalnya. Setiap tahun semoga kalian senantiasa dalam kebaikan.”
Jawaban Taqabbalallahu Minna Wa Minkum
Inilah bagian yang sering membuat banyak orang bingung. Ketika seseorang mengucapkan kalimat itu, apa yang sebaiknya dibalas?
Berdasarkan riwayat-riwayat yang sahih, berikut beberapa pilihan jawaban yang bisa digunakan:
1. Menjawab dengan kalimat yang sama
Cara paling utama adalah membalas dengan ucapan serupa, yakni taqabbalallahu minna wa minkum. Ini sesuai dengan kebiasaan para sahabat Nabi yang saling membalas ucapan tersebut di hari raya.
2. Mengucapkan minna wa minkum taqabbal ya karim
Jawaban ini berarti “Ya Allah Yang Maha Mulia, terimalah amal dari kami dan dari kalian.” Kalimat ini lebih ringkas namun tetap mengandung doa yang penuh makna.
3. Menjawab dengan na’am, taqabbalallahu minna wa minka
Dalam riwayat Sunan al-Baihaqi, disebutkan bahwa Rasulullah SAW sendiri menjawab ucapan tersebut dari Watsilah bin Asqa’ dengan kalimat na’am, taqabbalallahu minna wa minka, yang artinya “Ya, semoga Allah menerima amal dari kami dan darimu.”
4. Menjawab dengan versi lengkap
Bagi yang ingin menjawab dengan lebih sempurna, bisa menggunakan kalimat panjang: Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal yaa kariim, wa ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin wal maqbulin kullu ‘aamin wa antum bi khair. Jawaban ini merupakan doa yang sangat lengkap dan indah.
Dasar Hukum Mengucapkan Salam Hari Raya
Banyak yang bertanya, apakah ucapan ini benar-benar dianjurkan atau sekadar tradisi yang tidak ada landasannya?
Para ulama besar memberikan penjelasan yang cukup tegas dalam hal ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa ucapan selamat di hari raya telah diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi.
Para imam besar seperti Imam Ahmad pun memberikan kelonggaran dalam mengucapkannya. Bahkan Imam Ahmad menyatakan bahwa menjawab ucapan selamat hukumnya wajib, sedangkan memulai mengucapkannya merupakan sesuatu yang dibolehkan.
Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin juga menegaskan bahwa ucapan selamat hari raya dibolehkan, dan tidak ada lafal khusus yang diwajibkan selama ucapan tersebut tidak mengandung unsur yang salah.
Artinya, selain taqabbalallahu minna wa minkum, ucapan seperti “Selamat Hari Raya” atau minal aidin wal faizin pun diperbolehkan dan sah sebagai bentuk ucapan selamat.
Waktu yang Tepat untuk Mengucapkannya
Satu hal yang perlu diketahui adalah soal kapan kalimat ini boleh diucapkan. Banyak yang mengira hanya boleh setelah shalat Id selesai.
Namun berdasarkan fatwa dari Islamweb, ucapan selamat ini boleh disampaikan sebelum maupun sesudah shalat Id berlangsung.
Artinya, tidak ada batasan waktu yang ketat. Yang penting adalah niat dan ketulusan doa yang menyertainya.
Begitu pula soal momen penggunaannya, kalimat ini tidak hanya berlaku di Idul Fitri, tetapi juga di Idul Adha karena riwayat-riwayatnya mencakup kedua hari raya besar Islam tersebut.
Cara Menyampaikan Ucapan dengan Tulus
Mengucapkan salam hari raya tentu bukan sekadar menggugurkan kewajiban sosial. Ada adab dan ketulusan yang perlu menyertainya.
Berikut beberapa hal yang bisa diperhatikan agar ucapan terasa lebih bermakna:
- Ucapkan dengan wajah yang hangat dan tulus, bukan sekadar formalitas.
- Pastikan memahami artinya agar doa yang diucapkan benar-benar terasa di hati.
- Jawab setiap ucapan yang datang, karena menjawab salam hari raya termasuk adab yang dianjurkan.
- Hindari sekadar mengirim pesan singkat tanpa memahami isi doanya, karena kalimat ini adalah doa, bukan sekadar teks biasa.
- Jika bertemu langsung, jabat tangan yang hangat bisa menjadi pelengkap ucapan yang bermakna.
Momen Idul Fitri adalah waktu yang istimewa untuk memperkuat silaturahmi dan memperbarui niat dalam beribadah.
Kalimat taqabbalallahu minna wa minkum bukan sekadar tradisi lisan, melainkan doa nyata yang bisa menjadi pengikat hati antarumat Muslim.
Semoga setiap ucapan yang terdengar di hari raya membawa keikhlasan dan menjadi bagian dari amal yang diterima di sisi Allah SWT.








