Lailatul Qadar merupakan malam paling mulia yang selalu dinantikan jutaan umat Islam di seluruh dunia setiap kali bulan Ramadan tiba dengan segala keberkahannya.
Malam ini bukan sekadar malam biasa. Allah SWT menyebutnya secara langsung dalam Al-Qur’an sebagai malam yang nilainya melampaui seribu bulan kehidupan manusia.
Keistimewaannya diabadikan dalam surah Al-Qadr ayat 1 hingga 5, yang menegaskan bahwa pada malam itu para malaikat turun membawa ketenangan dan keberkahan hingga fajar menyingsing.
Bagi siapa pun yang berhasil menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan ibadah tulus, Allah SWT menjanjikan ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu sebagai bentuk kasih sayang-Nya.
Rasulullah SAW sendiri memberi teladan nyata dengan bersungguh-sungguh beribadah di sepuluh malam terakhir Ramadan, bahkan membangunkan keluarganya agar turut beribadah bersama.
Daftar isi
Kapan Malam Lailatul Qadar?
Tidak ada satu pun manusia yang mengetahui secara pasti kapan Lailatul Qadar jatuh, karena hanya Allah SWT yang menyimpan rahasia malam agung tersebut.
Namun, Rasulullah SAW memberikan petunjuk berharga melalui sabdanya agar umat Islam mencari malam itu pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan.
Jika mengacu pada awal Ramadan 1447 H yang ditetapkan mulai 19 Februari 2026, berikut perkiraan malam-malam ganjil yang sangat layak dihidupkan dengan ibadah:
- Malam 21 Ramadan: Selasa, 10 Maret 2026 malam
- Malam 23 Ramadan: Kamis, 12 Maret 2026 malam
- Malam 25 Ramadan: Sabtu, 14 Maret 2026 malam
- Malam 27 Ramadan: Senin, 16 Maret 2026 malam
- Malam 29 Ramadan: Rabu, 18 Maret 2026 malam
Para ulama sepakat bahwa malam ke-27 Ramadan paling sering disebut sebagai malam yang paling berpeluang menjadi Lailatul Qadar, meski kepastiannya tetap hanya milik Allah SWT.
Karena itulah, bukan hanya satu malam yang perlu disiapkan. Seluruh sepuluh malam terakhir Ramadan sebaiknya diisi dengan ibadah dan doa yang sungguh-sungguh tanpa terkecuali.
Bacaan Doa Malam Lailatul Qadar
Saat ditanya oleh Aisyah RA tentang doa apa yang sebaiknya dibaca jika bertemu Lailatul Qadar, Rasulullah SAW langsung mengajarkan sebuah doa singkat namun penuh makna mendalam.
Doa tersebut bukan doa yang panjang atau rumit, melainkan permohonan ampun yang tulus dan rendah hati kepada Allah SWT, Dzat yang Maha Pengampun dan Maha Pemaaf.
Para ulama menemukan dua redaksi doa malam Lailatul Qadar dari hadits Aisyah RA. Keduanya memiliki dasar hadits yang kuat dan sama-sama bisa diamalkan oleh umat Islam di mana saja.
Doa Pertama (Riwayat Imam At-Tirmidzi)
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Latin: Allāhumma innaka afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī
Artinya: “Ya Allah, sungguh Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah. Engkau menyukai maaf, maka maafkanlah aku.”
Doa Kedua (Riwayat Lima Imam Hadits kecuali Abu Dawud)
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Latin: Allāhumma innaka afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī
Artinya: “Ya Allah, sungguh Engkau Maha Pemaaf. Engkau menyukai maaf, maka maafkanlah aku.”
Perbedaan keduanya hanya terletak pada kata “karīmun” (Maha Pemurah) di redaksi pertama. Jika dibaca berjamaah, kata ‘annī bisa diganti menjadi ‘annā yang berarti “maafkanlah kami”.
Doa ini lahir dari percakapan Aisyah RA bersama Rasulullah SAW. Ia bertanya apa yang harus diucapkan bila tahu malam itu adalah Lailatul Qadar, dan inilah jawaban beliau.
Kesederhanaan doa ini justru menjadi kekuatannya. Ia menunjukkan bahwa yang paling dibutuhkan seorang hamba di hadapan Allah SWT adalah ketulusan dan pengakuan atas kelemahan diri.
Doa ini sangat dianjurkan untuk diulang-ulang sepanjang malam, khususnya pada waktu-waktu mustajab seperti sepertiga malam terakhir, saat sujud, dan menjelang fajar tiba.
Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Surah Al-Qadr menyebutkan bahwa Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan, yang berarti ibadah satu malam bisa melampaui nilai ibadah selama lebih dari 83 tahun kehidupan manusia.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa angka “seribu” dalam ayat tersebut bukan sekadar bilangan pasti, melainkan ungkapan untuk menggambarkan sesuatu yang sangat besar dan tak terhingga nilainya.
Pada malam itu, para malaikat turun ke bumi membawa kedamaian dan keberkahan atas izin Allah SWT, dan suasana ketenangan itu berlangsung terus hingga terbitnya fajar di ufuk timur.
Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa siapa pun yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan harapan hanya kepada Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Amalan Malam Lailatul Qadar
Menghidupkan malam Lailatul Qadar bukan berarti harus berjaga semalam suntuk tanpa arah. Ada amalan-amalan yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabat yang bisa diteladani sepenuh hati.
Berikut tujuh amalan utama yang sesuai sunnah Rasulullah SAW untuk mengisi malam Lailatul Qadar agar setiap ibadah terasa lebih terarah, bermakna, dan penuh kekhusyukan:
- Salat berjamaah Isya dan Subuh — Imam Syafi’i menyatakan bahwa siapa yang menghadiri kedua salat ini secara berjamaah, ia telah mengambil bagian dari Lailatul Qadar secara penuh.
- Memperpanjang salat malam (qiyamul lail) — Rasulullah SAW terbiasa memperpanjang salat malam di sepuluh hari terakhir Ramadan sebagai bentuk kesungguhan dalam mencari ridha Allah SWT.
- Itikaf di masjid — Nabi Muhammad SAW beritikaf selama sepuluh hari terakhir Ramadan setiap tahunnya hingga akhir hayat beliau, dan amalan ini diteruskan oleh istri-istri beliau setelahnya.
- Membaca doa Lailatul Qadar — Doa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Aisyah RA adalah doa yang paling dianjurkan untuk diperbanyak selama malam-malam sepuluh terakhir Ramadan.
- Membaca sayyidul istigfar — Istigfar terbaik ini dianjurkan dibaca terutama di waktu sahur sebagai bentuk permohonan ampun yang mendalam dan tulus kepada Allah SWT Yang Maha Kuasa.
- Tilawah Al-Qur’an — Malaikat Jibril rutin bertadarus bersama Nabi SAW setiap malam Ramadan. Para ulama seperti Imam Syafi’i pun terkenal memperbanyak bacaan Al-Qur’an di bulan ini.
- Bersedekah — Rasulullah SAW menyebut sedekah di bulan Ramadan sebagai sedekah terbaik, sehingga bersedekah di malam Lailatul Qadar menjadi pelengkap ibadah yang sempurna dan bernilai tinggi.
Kombinasi Amalan Terbaik Menurut Ulama
Ibnu Rajab Al-Hambali dalam Lathaiful Ma’arif menjelaskan bahwa amalan paling sempurna di malam Lailatul Qadar adalah mengombinasikan empat ibadah sekaligus secara bersama-sama.
- Salat Tahajud
- Membaca Al-Qur’an dengan tartil
- Memperbanyak doa, termasuk doa malam Lailatul Qadar yang diajarkan Rasulullah SAW
- Tafakur atau merenungkan kebesaran Allah SWT
Sufyan At-Tsauri bahkan menyatakan bahwa berdoa di malam Lailatul Qadar lebih ia sukai daripada salat yang tidak disertai banyak permohonan kepada Allah SWT.
Ini bukan berarti salat kurang penting, melainkan penegasan bahwa doa yang tulus dan sungguh-sungguh adalah ruh dari seluruh ibadah yang kita kerjakan pada malam mulia tersebut.
Maka, manfaatkan setiap momen di sepuluh malam terakhir Ramadan sebaik-baiknya. Jangan lewatkan satu malam pun tanpa doa, tilawah, dan munajat yang tulus kepada Allah SWT.








